Posted by: wirati | March 4, 2010

Pura Penataran Agung Ped

Aku dan temanku di Bounty Cruise

Pura Dalem Ped atau Penataran Agung Ped adalah kompleks pura terbesar di Nusa Penida. Berada sekitar 50 meter sebelah selatan bibir pantai lautan Selat Nusa persisnya di Desa Ped, Sampalan, Nusa Penida, Klungkung.  Piodalan di Pura Penataran Agung jatuh pada tiap-tiap Budha Cemeng Klawu.  pengaruhnya yang sangat luas yakni seluruh pelosok Bali, Pura Penataran Agung Ped disepakati sebagai Pura Kahyangan Jagat.  Pura ini selalu dipadati pemedek untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, kerahayuan, dan ketenangan. Hingga saat ini, pura ini sangat terkenal sebagai salah satu objek wisata spiritual yang paling diminati. Aku senang sekali, akhirnya mendapat kesempatan untuk datang ke sana (8/2).  Seminggu sebelum karya berlangsung. Selain melakukan persembahyangan, aku juga meliput.  Hanya saja karena waktu yang tersedia sangat minim, hasil liputan pun standar.  Namun, pengalaman ini sangat berkesan bagiku karena ini pertamakalinya  aku datang dan merasakan bagaimana dahsyatnya naik perahu kecil menuju pura.

Pemedek memasuki bounty criuse

Selama  pujawali di Pura Penataran Agung Ped, Nusa Penida, Klungkung, para pemedek diangkut secara gratis oleh  kapal Bounty Cruises. Pukul 10.00 kami harus sudah tiba di pelabuhan Benoa.  Sambil menikmati makan pagi, kapal berangkat menuju Nusa Penida.  Bounty cruises tidak saja mengangkut pemedek, tapi juga beberapa turis yang akan melakukan water sport  di Nusa Lembongan.  Setelah mengantar mereka ke sana, perjalanan dilanjutkan menuju  Pura Penataran Agung Ped.  Aku tidak terlalu jelas berapa jarak yang ditempuh, namun, sekitar pukul 11.30 kami sudah berada dekat dengan Pura.

Ketika kapal tiba beberapa meter dari pura, penumpang harus berpindah ke perahu kecil. Untuk mencapai pura tidaklah jauh dari perahu kecil. Namun, walaupun perjalanan itu membutuhkan waktu sekitar 15 menit, tak pelak membuat jantung kami berdetak kencang. Saat itu, kebetulan hujan, sehingga ombak besar menerjang perahu kami. Aku ketakutan luar biasa bahkan tak henti-henti mengucapkan doa agar kami selamat sampai di Pura. Perahu sempat oleng karena jumlah penumpang tidak seimbang, dan kami duduk tidak merata. Ombak pun bahkan mencapai pingggiran perahu.

Pemedek selamat tiba di pinggir pantai menuju Pura

Tapi untungnya perahu yang aku tumpangi tidak mengalami masalah. Walau pun ombak besar, perahu tetap berlayar pelan tapi pasti menuju pinggir pantai dan  mencapai pura.  Namun, berbeda dengan perahu yang ditumpangi temanku. Perahu mati  di tengah lautan, bahkan sampai dua kali.  Tentu saja kejadian ini membuat penumpang dan beberapa temanku yang ikut rombongan itu,  ketakutan.  Berbagai komentar muncul dari bibir mereka ketika akhirnya mereka berhasil tiba dengan selamat di Pura. (akhirnya………)

Ada lima lokasi pura yang bersatu pada areal Pura Penataran Agung Ped.  Pertamakali kami tiba di pinggir pantai kami langsung menuju Pura Segara,  sebagai tempat berstananya Batara Baruna, terletak pada bagian paling utara dekat dengan bibir pantai lautan Selat Nusa. Beberapa meter mengarah ke selatan ada Pura Taman dengan kolam mengitari pelinggih yang ada di dalamnya. Pura ini berfungsi sebagai tempat penyucian. Mengarah ke baratnya lagi, ada Pura utama yakni Penataran Ratu Gede Mecaling sebagai simbol kesaktian penguasa Nusa pada zamannya. Di sebelah timurnya ada lagi pelebaan Ratu Mas. Terakhir di jaba tengah ada Bale Agung yang merupakan linggih Batara-batara pada waktu ngusaba.

Masing-masing pura dilengkapi pelinggih, bale perantenan dan bangunan-bangunan lain sesuai fungsi pura masing-masing. Adanya sejumlah bangunan-bangunan pura yang dikeramatkan, berdampak pada lingkungan pura. Atmosfer keramat diyakini sudah tercipta sejak awal keberadaan pura tersebut.

Masyarakat Nusa Penida ngayah di Pura

Selain itu, di posisi jaba ada sebuah wantilan yang sudah berbentuk bangunan balai banjar  yang biasa dipergunakan untuk pertunjukan kesenian.  Di sini terdapat areal parkir yang cukup luas. Di areal sebelah selatan lokasi parkir kendaraan terdapat kamar mandi untuk pemedek yang biasanya mekemit sampai keesokan paginya. Pemedek biasanya mekemit di wantilan. Di seberang jalan terdapat warung warung yang menjual makanan, yang juga menyediakan kamar mandi yang disewakan.

Aku bersama rombongan tidak punya banyak waktu selama di Pura Dalem Ped.  Pukul 13.30 kami harus sudah kembali ke perahu. Setelah selesai melakukan persembahyangan, aku segera menjalankan tugasku. Untungnya, aku masih sempat mewawancarai dua orang perempuan asli Nusa Penida. Dengan berlari-larian , aku dan temanku segera kembali ke perahu yang akan mengangkut kami kembali ke kapal Bounty. Untungnya, perjalanan pulang sangat aman dan tenang. Langit cerah dan ombak pun bersahabat.  Ah… bahagianyaaaaaaaaaaaa

Catatan Wirati Astiti, wartawan Tokoh


Responses

  1. weh keren deh, sayang aku lom pernah ke situ. pasti seru banget yachhhh

    • hehehe pokoknya itu pengalman seru banget

  2. mbak, salam kenal. Aku asli Bali tapi tinggal di jakarta sejak kecil,.
    Aku ga pernah ke situ juga

    • salam kenal balik, kalau pulang ke Bali, bisa sekalian mampir dan jalan-jalan ke nusa penida. Sekarang Nusa sudah berubah. Pemnadangannya indah banget, pokoknya gak nyesel deh

  3. pengalaman seru dong

    • iyalah, inin pengalaman tak terlupakan. Naik perahu dengan ombak besar, weuiiiihhhhhhh dasyat coyyyyy


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: