Posted by: wirati | February 21, 2010

Maraknya Kafe di Serangan, Resahkan Kaum Perempuan

Diskusi Keleompok Perempuan Serangan

“Sejak suamiku pergi bersama perempuan kafe itu, saya mengurus dan membesarkan anak-anakku sendiri. Saya sudah tidak peduli lagi dia di mana,” tutur Fitria, perempuan asal Kampung Bugis, Kelurahan Serangan, Denpasar Selatan.

Suaminya yang bertugas sebagai polisi, sering melakukan patroli ke kafe-kafe. Ironisnya, suaminya malah kecantol seorang perempuan yang bekerja di  kafe.  Hubungan mereka terjalin sekitar dua tahun. Fitria mengaku hanya bisa pasrah.  Makin diberi tahu, suaminya malah makin lengket dengan cewek itu.  Kini, Fitria sudah tidak peduli lagi. Ketika suaminya pergi menghilang meninggalkan dia bersama perempuan itu, ia menyibukkan dirinya mencari penghasilan dengan menyelam mencari kerang dan membuat kreasi monte. “Kadang saya dapat Rp 500.000 sebulan. Kadang juga kurang. Hasilnya untuk menyambung hidup dan biaya anak sekolah,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Fitria memiliki dua anak. Yang besar duduk di kelas II SD, adiknya usia 4 tahun.
Istri Kepala Lingkungan Banjar Ponjok Wayan Ngayom Artini mengaku miris melihat beberapa warganya yang akhirnya melupakan istri dan anak-anak mereka karena kecantol perempuan pekerja kafe.  Ia menyayangkan, anak-anak muda lebih memilih kawin dengan  pekerja  kafe.  Setelah kawin, dan punya anak, kata Artini, ada yang bercerai. Kemudian yang lelaki kepincut cewek kafe lainnya.
Artini menuturkan, ada salah seorang cewek kafe yang disiram air cabai oleh istri lelaki yang tergila-gila padanya.  Namun, kata Artini, cewek kafe itu  tetap nekad memburu lelaki itu. Mereka akhirnya kawin dan bertempat tinggal bersama.

Keresahan kaum perempuan terhadap kehadiran kafe di Kelurahan Serangan, membuat Nyoman Nusti punya trik khusus menyelamatkan uang dapurnya.  Istri Wayan Suriawan  ini menuturkan, suaminya diminta menyetor semua gajinya. “Tiap gajian, semua uang diberikan ke saya,” kata Nusti.

Dia mendengar dari beberapa warga, banyak lelaki yang datang ke kafe uangnya dipeloroti. “Malah sampai ada yang menjual tanah dan motor. Setelah uangnya habis, cewek kafe itu meninggalkannya,” ungkapnya.  Namun, ia mengaku dapat  bernapas lega karena suaminya tidak pernah datang ke kafe.
Penuturan Ni Nyoman Nik lain lagi.  Sejak suaminya menjadi satpam di kafe, dia dikejar-kejar seorang cewek  kafe. “Merasa sudah memiliki istri, suami saya  tidak mau meladeni.  Tetapi, saya kaget  setelah penolakan itu, dalam hitungan beberapa hari, suami saya lengket kayak perangko dengan dia. Tidak pernah pulang ke rumah,” tutur Nik. Nik segera meminta bantuan dukun. Akhirnya dalam waktu dua bulan, suaminya terlepas dari jeratan perempuan itu. Kini suami Nyoman Nik tidak bekerja lagi sebagai satpam di kafe. Ia mencari pekerjaan lain di Denpasar.
Ungkapan kecemasan para kaum perempuan di Kelurahan Serangan sejak kafe mulai menjamur, menjadi diskusi serius kelompok perempuan dalam “Penerapan Kartu Penilaian Partisipatif Komunitas untuk Pluralisme”  yang diselenggarakan LSM  Bali Sruti dan Kapal Perempuan, Kamis (4/2) di Kelurahan Serangan, Denpasar Selatan.

Sistem Tahu Malu
Lurah Serangan I Gede Poniman, S.H. membenarkan begitu  banyak masalah sosial yang terjadi sejak kafe bermunculan. Saat ini, kata Poniman, ada 7 kafe yang beroperasi di Kelurahan Serangan.  Ia  mengaku prihatin anak-anak muda menatap cewek kafe  seperti melihat artis.   Begitu kenal mereka langsung kepincut. Ironisnya, warga yang sudah  menikah ikut-ikutan kecantol.
Ia mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendapatan Daerah Kota Denpasar agar  kafe memberi kontribusi ke kas Kelurahan. Saat ini, kata Poniman, belum ada kontribusi apa pun ke Kelurahan.  Sebelumnya,  memang ada kesepakatan  antara Bali Turtle Island Development (BTID) yang mendapatkan izin melakukan reklamasi  di Pantai Serangan dan masyarakat Serangan.  Sebelum lahan digunakan, masyarakat boleh pinjam pakai.   “Karena sudah ada kesepakatan dengan pihak pengelola, kami tidak bisa melarang pendirian kafe di wilayah BTID,” kata lurah yang menjabat sejak 20 Februari 2006 ini.

Untuk mengantisipasi masalah sosial yang terjadi, pihak Kelurahan Serangan berkoordinasi dengan aparat desa.   Ia mengatakan, perbedaan dalam berbagai aspek kadang menimbulkan persaingan sehingga menimbulkan konflik tersembunyi. Pecalang dan  hansip sudah ada, termasuk 17 orang personel Bankamdes. Poniman menyebutkan, konflik yang terjadi karena judi, minuman keras,  dan ribut dengan saudara sendiri.  Artinya, pengendalian diri warga masih perlu ditingkatkan.  Tahun 2007 pihak Kelurahan Serangan melakukan kerja sama dengan pos polisi Serangan. Jika ada warga yang terpergok mengonsumsi  minuman keras seperti arak  di areal terbuka, akan diserahkan ke pos polisi untuk diberi pembinaan. Sejak kesepakatan itu dilakukan, mulai ada penurunan. “Sebelum itu banyak anak muda yang minum arak di tempat terbuka. Sering terjadi keributan gara-gara mabuk. Sekarang sudah banyak perubahan.  Sementara untuk menyelesaikan masalah lantaran para suami banyak yang kecantol cewek kafe, kami hanya menggunakan sistem tahu malu. Kami hanya bisa menasihati dan memberi saran,” jelasnya.

Yang sering menjadi masalah, kata Poniman, kalau  istrinya berasal dari luar Serangan. Para perempuan yang menjadi korban dan  ditinggal begitu saja suaminya melapor ke pihak keluarganya. Biasanya mereka langsung    datang membawa keluarganya untuk meminta penjelasan.

Patroli Pamswakarya
Kepala Pos Polisi Serangan I Gede Arsana mengatakan, patroli terus digencarkan untuk memantau keamanan warga dari konflik.  Pamswakarya dilakukan minimal satu minggu dua kali terutama malam menjelang hari libur.  Ia meminta pemilik kafe segera menghubungi pos polisi jika terjadi masalah.  Sampai  saat ini, kata Arsana, belum ada tindak pidana yang berlebihan. “Kafe juga memiliki satpam yang bertugas menjaga keamanan,” katanya.- ast

Reklamasi Menjadikan Serangan Berubah

SEBELUM hadirnya proyek reklamasi, Kelurahan Serangan  disebut Pulau Emas, karena pasirnya yang berwarna kuning keemasan dan keindahan serta kekayaan sumber daya alam pesisirnya.  Pulau Serangan juga dikenal berkat keberadaan Pura Dalem Sakenan yang merupakan salah satu Pura Dang Kahyangan Jagat di Bali. Serangan  juga dikenal kerukunan antarwarganya yang berbeda suku,  antara Bugis muslim dan warga setempat yang mayoritas Hindu. Setelah hadirnya proyek reklamasi, akses jalan terbuka lebar. Banyak pendatang menjamah Serangan.
“Reklamasi Pulau Serangan tak hanya mengubah pekerjaan masyarakat setempat. Arus laut pun berubah. Ketika berbentuk pulau, arus laut memutari Serangan. Kini, arus laut berbalik arah, menyebabkan sepanjang pantai hingga pantai di Tanjung Benoa, Nusa Dua, dan Pantai Mertasari Sanur, mengalami abrasi. Pembangunan itu juga merusak ekosistem di Serangan. Hamparan terumbu karang dan rumput laut hancur.” (Koran Tokoh Edisi 527).
Lisa Woinarski dalam laporan studi lapangan di Serangan untuk memenuhi syarat Program ACICIS (Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies) di Fakultas FISIP, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menulis, sebelum adanya proyek BTID masyarakat hidup dengan aman dan tenteram dalam melaksanakan kehidupan sehari-harinya. Proyek BTID telah menimbulkan permasalahan baru, yaitu konflik dalam masyarakat Serangan. Dulu warga Bugis hidup rukun dengan warga Hindu dan dianggap bersaudara. Sekarang, malah timbul pembelahan etnik antara orang Bugis dan Bali yang beragama Hindu. (halaman 25). Hal itu dibenarkan Siti Sapurah atau yang akrab disapa Ipung, asal  Kampung Bugis.  “Sebelum reklamasi kami merasa bersaudara, antara Bugis dan orang Bali karena nenek moyang sama-sama masuk ke  Pulau Serangan. Ada istilah ngejot, mengirimkan makanan saat hari raya masing-masing.  Setelah reklamasi hubungan kami tidak seharmonis dulu,” kata Ipung.

Lurah Serangan Poniman mengatakan, menjelang pesta demokrasi  sering terjadi bentrokan  antarwarga, sehingga dibuat aturan tidak boleh memasang bendera, spanduk partai untuk meminimalkan konflik. Namun, pesta demokrasi harus tetap dijalankan. Masyarakat memunyai hak dan kewajiban. Akhirnya mereka dibolehkan memasang atribut partai, dengan catatan, siapa yang memasang  dialah yang membersihkannya.  Ia menilai, etika masyarakat Serangan mulai berubah. “Sudah banyak kemajuan. Mereka mau  menerima saran dan mau diajak berdiskusi,” katanya.
Poniman mengatakan, Serangan membuka diri bagi investor yang datang untuk membangun Serangan sebagai daerah pariwisata. Serangan memiliki kemiripan dengan Sanur, Nusa Dua, Kuta. “Belum lengkap menikmati keindahan Bali, kalau belum ke Serangan,” kata Poniman.  Ia menyatakan yang perlu  dibenahi masalah kebersihan. Pihaknya  sudah berkoordinasi dengan beberapa LSM untuk menciptakan Serangan menjadi lebih bersih.

Laporan studi lapangan Lisa Woinarski halaman 31 menyebutkan,  setelah reklamasi, sebagian masyarakat Serangan sudah mencari nafkah di tempat lain, dengan membangun kafe-kafe (tempat hiburan malam,  ada karaoke dan minuman keras), dan juga warung di pantai timur, di tanah yang dimiliki BTID. Dalam MoU, BTID menyetujui pergunaan lahan tidur BTID oleh penduduk Serangan, akan tetapi tidak termasuk hak pinjam yang berarti bahwa nanti, kalau proyek dilanjutkan, penduduk akan digusur dan perusahaannya dibongkar.  -ast

Deteksi Potensi Berkembangnya Konflik dengan Kartu

KARTU penilaian partisipatif komunitas untuk pluralisme  ini merupakan alat yang dapat digunakan masyarakat sipil mengukur kadar penguatan indentitas berbasis kesukuan dan agama di satu komunitas serta pengaruhnya pada kebijakan publik yang berpotensi mengurangi nilai-nilai pluralistik.
Sri Endras Iswarini dari Kapal Perempuan mengatakan, dengan kartu ini  masyarakat sipil dapat  mendeteksi secara dini potensi berkembangnya konflik terbuka berbasis kesukuan dan agama yang mungkin dapat menimbulkan kekerasan dan korban. “Hasil deteksi ini kemudian dijadikan dasar untuk mengembangkan rekomendasi menuju masyarakat yang damai dan adil,” ujarnya.
Kartu penilaian ini terdiri atas lima kartu yang diproses dengan menggunakan  focus group discussion  (FGD). Melalui diskusi diharapkan hasil penilaian dapat dicapai secara konsensus setelah melalui proses perdebatan anggota diskusi. Untuk mendapatkan hasil maksimal diharapkan FGD dapat dilakukan empat kelompok berbeda. Setelah  masing-masing kelompok berdiskusi, hasilnya didiskusikan bersama.

Kurang Berani Bicara
Kepala Lingkungan Banjar Kawan Nyoman  Pariata mengatakan, wajar jika pihak laki atau perempuan saling bertukar peran tergantung kapabilitas masing-masing. Ini masalah kodrat, yang membedakan laki-laki dan perempuan.
Menanggapi hal itu, Ketua LSM Bali Sruti Luh Riniti Rahayu mengatakan, kodrat adalah perbedaan peran laki-laki dan perempuan yang merupakan rahmat Tuhan yang tidak dapat digantikan/ditukarkan.  Perempuan memiliki  kodrat 5 M (menstruasi, mengandung, melahirkan, menyusui, dan  menapause). Laki-laki memiliki 1  M (membuahi/menghamili). “Memasak, membuat canang, merawat anak,  dan membersihkan rumah bukan kodrat. Kadang laki-laki juga memasak, dan merawat anak. Itu bukan kodrat tetapi gender. Pemahaman gender di Bali dan Jawa berbeda. Kalau di Bali, laki-laki memasak waktu ada upacara adat (ngelawar), sedangkan perempuan membuat banten. Gender ini bisa  berubah tergantung situasi dan kondisi, sedangkan kodrat tidak dapat ditukar,” jelasnya.

Zul Kifli meminta kaum perempuan lebih berani  menyuarakan pendapatnya. Semua aspirasinya akan dibawa ke rapat LPM. Fasilitator Kelompok Perempuan Luh Anggreni dari Bali Sruti meminta kaum perempuan  berani menyuarakan aspirasinya. “Jangan hanya saat berdiskusi dengan sesama perempuan berani bicara. Sekarang waktunya bicara,” ujarnya memberi semangat.  Riniti berpandangan,    agar perempuan mau berbicara harus ada wadah yang menampung suara perempuan.  Biasanya perempuan  sulit menyuarakan aspirasinya, terkecuali jika ada konflik yang terjadi, baru berani berbicara. Di masing-masing banjar sudah ada wadah PKK. Ia berharap kaum perempuan belajar berbicara dalam rapat-rapat PKK.

Wayan Asih mengatakan, perempuan tidak perlu dijadikan anggota LPM, yang terpenting ada keseimbangan. “Kami dilibatkan dalam berbagai hal,” ujar istri salah seorang kepala lingkungan yang akhirnya mengeluarkan suaranya setelah kaum laki-laki terus meminta kaum perempuan bicara.
Salah seorang warga mengatakan, jika kaum perempuan tidak nyaman terhadap keberadaan kafe, pendapat ini akan disampaikan dalam rapat desa. Ketua Pokja Bali Bhineka Santi  (BBS)  Ketut Astawa mengatakan   ada ketimpangan dalam pertemuan ini, peserta laki-laki lebih banyak daripada perempuan.  Untuk itu, kata Astawa,  perlu  dibuka dialog publik  yang lebih banyak melibatkan banyak perempuan. Anggota Pokja BBS Saicu berpandangan,  kaum perempuan belum memunyai keberanian untuk berbicara karena kurangnya kemampuan mereka. “Perlu peningkatan kapasitas kaum  perempuan dengan  pelatihan komunikasi,” sarannya. Riniti mengatakan akan siap memasilitasi pelatihan peningkatan kapasitas perempuan di Kelurahan Serangan.

DARI hasil Penerapan Kartu Penilaian Partisipatif Komunitas untuk Pluralisme didapat beberapa rekomendasi perbaikan hubungan antargolongan di Kelurahan Serangan yakni:
1.    Penting melibatkan perempuan dalam proses pengambilan keputusan.
2.    Penting mendengarkan suara-suara minoritas, yang terpinggirkan, yang selama ini tidak pernah terdengar.
3.    Penguatan lembaga yang dapat memengaruhi suara minoritas/perempuan agar menjadi lebih terdengar.
4.    LPM Kelurahan Serangan dapat memasilitasi untuk menengahi masalah kafe  yang dirasakan sangat meresahkan kaum perempuan di Kelurahan Serangan.
5.    Meningkatkan pelatihan untuk memperkuat kapasitas agar kelompok perempuan/kelompok minoritas berani mengeluarkan aspirasi/bersuara.
6.    Memperbanyak ruang dialog yang melibatkan kelompok perempuan.
7.    LSM Bali Sruti siap memasilitasi pelatihan peningkatan kapasitas perempuan di Kelurahan Serangan. -ast

Koran Tokoh, Edisi 579, 7 s.d. 14 Februari 2010


Responses

  1. […] Klik di sini Kategori tulisan: Uncategorized, anak, kesehatan, tips Post Tags: budaya, cantik, facebook, […]

    • Terimakasih sudah berkunjung.
      Ini hanya sekadar catatan perjalanan saya selama menjadi wartawan. Semoga bermanfaat

  2. Saya rasa 7 kafe dalam 1 kelurahan adalah jumlah yang berlebihan. Seharusnya pembangunan juga melihat aspek keseimbangan dalam masyarakat.

    • helo cahya, makasi ya komennya.
      Ini masalah yang sedang dihadapi warga di Serangan. Cukup memprihatinkan.

  3. Saya pernah diajak teman saya ke Serangan, dengan cerita kurang lebih sama dengan cerita mbak. Miris sekali memang. Ibu-ibu yang berjualan di pinggiran pantai emas Serangan itu, harus craving for money, belum lagi informasi bahwa mereka itu harus setor sekian jumlah uang untuk para pengelola dagangan itu.
    Sedih membaca banyak cerita tentang perempuan yang dimarginalkan begini.
    Saya berharap ada pihak-pihak yang bisa membantu mereka disana agar lebih berdaya dan tidak terus menerus ditindas begitu ya.

    • Ya begitulah serangan sekarang. Dulu bagai pulau emas, pemandangan indah dan sangat berkesan ketika datang ke sana. Namun, sekarang, semua berubah.
      tampaknya, reklamasi akan terus menyisakan masalah di Serangan, entah sampai kapan…… Prihatin banget…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: