Posted by: wirati | February 20, 2010

Hormati Orang Tua

Prof. Sulistyawati

TAHUN Baru Imlek dirayakan dengan cara bersembahyang kepada para leluhur. Bagi orang     Tionghoa, menghormati orangtua atau orang yang dituakan yang telah berjasa merupakan hal yang utama.  Nasihat itu, sudah diterapkan sejak kecil. Ketua Dewan Pakar Indonesia Tionghoa (INTI) Bali Prof. Dr. Sulistyawati, M.S. mengatakan, menghormati orang tua diimplementasikan INTI Bali sebagai organisasi sosial kemasyarakatan dengan kepedulian kepada para veteran. Para veteran dianggap orang tua yang seharusnya dihormati karena telah berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Dalam tiap kegiatannya, INTI Bali selalu melibatkan para veteran  termasuk dalam perayaan Imlek.

Ia menyatakan, anak-anak sebagai generasi masa depan sebaiknya sudah sejak kecil diajarkan untuk menghormati orang tua. Ada suatu kepercayaan bagi warga Tionghoa, durhaka pada orang tua akan membuat hidup mereka menderita. Dalam perayaan Tahun Baru Imlek 2561 pemberian bantuan kepada para veteran dilakukan dengan melibatkan anak-anak yang duduk di sekolah dasar.  Tujuannya, agar mereka mengenal para pejuang yang telah ikut andil dalam revolusi kemerdekaan. Sesuai tema perayaan Imlek tahun ini “Peduli Pendidikan, Seni dan Budaya”, anak-anak akan banyak dilibatkan. Berbagai hiburan akan dipentaskan anak-anak.

Ia mengatakan, fase kehidupan manusia menjadi konsep yang akan dilalui dalam perayaan Imlek seterusnya. Perayaan tahun depan akan melibatkan remaja yang duduk di bangku SMP, kemudian diteruskan tahun depannya lagi lebih melibatkan remaja SMA. Istri Ir. Frans Bambang Siswanto, M.M. ini mengatakan, Imlek merupakan perayaan pengalaman kasih yang membahagiakan kepada sesama. Kasih yang membahagiakan itu mereka terima dari kemurahan alam. Karena itu, kata Prof. Sulis, begitu ia akrab disapa, mereka pun harus belajar bermurah hati kepada sesama. Kasih yang membahagiakan itu layak untuk dinikmati dalam kebersamaan dengan sesama terutama kaum lemah, miskin, dan papa. “Dalam perayaan Imlek, dibagikan kepada anak-anak, orang-orang miskin, hal-hal yang dapat membahagiakan mereka seperti uang, makanan, hadiah atau bantuan lain. Dengan berbagi kebahagiaan, kasih yang berlimpah itu diharapkan dapat makin merasuki berbagai sektor kehidupan mereka dan akhirnya akan memberikan kebahagiaan lebih besar lagi,” kata ibu tiga anak ini.

Ia mengatakan inti kasih sayang tidak terletak dalam banyaknya kata-kata, tetapi dalam tindakan untuk saling memberi. Kemampuan mengasihi ini berawal di dalam keluarga. Pusat perayaan Imlek terletak pada kesediaan seluruh anggota keluarga berkumpul bersama, berbagi pengalaman kasih dalam keluarga. “Puncak perayaan diungkapkan dengan kesediaan makan bersama, dan saling menghormati, menyampaikan doa atau harapan agar hidup lebih baik pada masa depan,” ujar nenek dua cucu ini.

Makna spiritual Imlek ini terus diimplementasikan dalam kiprah INTI Bali, menjaga kerukunan dengan sesama warga masyarakat Bali. Perempuan kelahiran Denpasar, 6 Februari 1946 ini menuturkan, Imlek bukanlah suatu agama tapi  satu budaya warga Tionghoa. Imlek secara menyeluruh sudah dirayakan di Tiongkok sejak zaman Kaisar Chin Che Huang pada masa 246-210 SM. Menurut sejarahnya, Imlek merupakan perayaan menyambut musim semi. Para petani melakukan persembahyangan agar panen mereka berhasil. Warna dasar perayaan Imlek adalah merah, yang berarti kebahagiaan dan semangat hidup. Guru Besar jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Unud dan Kajian Budaya Fakultas Sastra Unud ini menambahkan,  makanan manis tersaji dalam perayaan tahun baru sebagai pengharapan semoga  tahun yang akan datang dapat dilalui dengan baik tanpa aral merintang.

Menurut legenda, dahulu kala seekor raksasa yang bernama Nian pemakan manusia dari pegunungan  muncul pada akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak,  dan penduduk desa. Untuk melindungi diri mereka, para penduduk menaruh makanan di depan pintu pada awal tahun. Mereka percaya dengan melakukan hal itu raksasa akan memakan makanan yang telah mereka siapkan. Raksasa tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil panen penduduk. Suatu ketika,  penduduk melihat raksasa Nian lari ketakutan setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. Penduduk kemudian percaya raksasa takut terhadap warna merah. Setiap kali tahun baru akan datang, para penduduk menggantungkan lentera dan gulungan kertas merah di jendela dan pintu. Mereka juga menggunakan kembang api untuk menakuti raksasa Nian. “Adat-adat pengusiran Nian ini kemudian berkembang menjadi perayaan Tahun Baru Imlek,” ujarnya. –ast

Koran Tokoh, Edisi 579, 7 s.d. 14 Februari 2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: