Posted by: wirati | June 30, 2008

Lorong Sepi

Aku berjalan menelusuri lorong sepi

Tertatih ku menyeret kakiku melangkah

Sejenak ku terdiam membisu

Kakiku seolah kaku, beku

tak mampu melangkah lagi

Aku terdiam di ruang kosong

Sepi, hampa, sendiri……

Aku mencoba merenung

Mencoba menerawang kembali

Memaksa ingatanku kembali melayang

namun tetap tak mampu

ku coba kayuhkan kaki, gapai sisi indah disampingku

namun, tak jua ku rengkuh

Tiba-tiba ku tersadar seolah bangun dari mimpi panjangku

Dimanakah aku???


Responses

  1. halo mmapir neh. Mbak puisinya kok sedih gitu sih,. jadi pengen nangis aja

  2. mbak, aku juga nulis puisi,

  3. wah,saya merasa terwakili dng puisi2 nya.
    Uffhh,
    ternyata ada disudut gelap tak bertepi….
    mengharap kembali………..
    menghabiskan tetes mata terakhir
    berharap…berhara..berharap…
    yg tak pasti ..dan takkan pernah kembali…

  4. ada beda ttg makna
    sepi yg itu
    itu sepi

    nir…

    kesunyian yg suci
    jadikan ia pengganti sepi-mu
    tuk bahagiakan sang hati
    memenangkan hidupmu

    sepi
    nir
    adalah puncak keindahan

    terasa tak tega
    KUmengakhiri sepiMU
    mmg bkn AKU
    sang pengawal hidup

    tetapi sepimu
    mesti bebaskanMU
    dari keterikatan sedihnya
    tuk beranjak menuju peluangangin

    tak tegaKU mengakhiri sepiMU
    dg peluangbaliku
    namun…
    pun bila sepimu terusik
    ada angin yg mananti
    dlm keseharian
    realistic idealism

  5. yeahhhhhhhhhhhhhhh
    ikut sepi juga??


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: